Demonstran Iran Protes Mengenai Pemadaman Listrik

Protes pecah di beberapa kota di Iran , termasuk Teheran, dalam beberapa hari ini atas pemadaman listrik yang berulang. Protes tersebut telah berubah menjadi agenda politik, di mana para demonstran meneriakkan yel-yel yang menyerukan kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Dalam protes di kota Shiraz pada hari Senin, para demonstran meneriakkan yel-yel “matilah diktator” dan “matilah Khamenei” dalam kegelapan.

Selanjutnya, demo di daerah perumahan di Teheran—yang direkam dalam sejumlah video—, para pengunjuk rasa terdengar meneriakkan yel-yel “matilah diktator” dan “matilah Khamenei” dari gedung-gedung tinggi yang gelap.

Video lain yang diposting di media sosial menunjukkan pengunjuk rasa berkumpul di luar kantor perusahaan listrik lokal di Shahr-e Rey, selatan Teheran, menuntut pengunduran diri menteri energi, yang mereka gambarkan sebagai “tidak kompeten”.

Media pemerintah Iran, yang jarang meliput berita protes, ikut melaporkan demo di beberapa kota di Iran utara.

“Para pengunjuk rasa mengatakan pemadaman listrik yang sering menyebabkan banyak masalah, termasuk pemadaman air di apartemen, pembusukan daging dan unggas dan barang-barang lainnya di lemari es, dan kerusakan peralatan rumah tangga,” tulis kantor berita ISNA yang melaporkan dari kota timur laut Kordkuy.

Para pejabat menyalahkan pemadaman listrik pada lonjakan permintaan pasokan listrik, curah hujan rendah yang memangkas keluaran pembangkit listrik tenaga air, dan penambangan cryptocurrency ilegal yang mengakses listrik bersubsidi.

Presiden Hassan Rouhani meminta maaf kepada rakyat Iran pada hari Selasa atas pemadaman listrik.

“Saya meminta maaf kepada orang-orang terkasih yang telah menghadapi masalah dan penderitaan dalam beberapa hari terakhir dan saya mendesak mereka untuk bekerja sama (dengan membatasi penggunaan listrik). Orang-orang mengeluh tentang pemadaman listrik dan mereka benar,” kata Rouhani dalam rapat kabinet yang disiarkan langsung di stasiun televisi pemerintah seperti dikutip Reuters, Rabu 7 Juli 2021.

“Kementerian Energi tidak bersalah, tetapi menteri harus datang dan menjelaskan kepada rakyat apa masalahnya, dan kita harus mencari solusi,” kata Rouhani.

Protes di Iran memasuki hari ketiga, menyebar ke Teheran dan memicu bentrokan dengan polisi. Berdasarkan laporan media sosial, dua demonstran ditembak mati di sebuah kota provinsi.

Gelombang demonstrasi anti-pemerintah yang dipicu oleh masalah ekonomi dan dugaan korupsi ini merupakan yang paling serius sejak kekisruhan berbulan-bulan pada 2009 lalu, menyusul terpilihnya kembali Presiden Mahmoud Ahmadinejad.

Protes ini malah bertepatan dengan demonstrasi yang diselenggarakan pemerintah untuk memeringati berakhirnya kekisruhan 2009. Acara itu diikuti massa pro-pemerintah di Teheran dan Mashhad, kota kedua terpenting di Iran.

Unjuk rasa pro-pemerintah digelar di 1.200 kota besar dan kota kecil, kata laporan televisi pemerintah yang dikutip Reuters, Minggu 31 Desember.

Di saat yang sama, demonstrasi anti-pemerintah pecah di sejumlah kota dan di Teheran untuk pertama kalinya pada Sabtu, ketika demonstran bentrokan dan melempari polisi dengan batu.

Sejumlah video yang diunggah di media sosial dari Dorud menunjukkan dua orang lelaki tergeletak di tanah, berlumurh darah. Suara yang terekam dalam video itu menyebut mereka ditembak mati oleh polisi huru-hara.

Seorang demonstran lain di video berteriak, “saya akan bunuh siapapun yang membunuh saudara saya!” Video itu, seperti biasanya, tidak bisa begitu saja diverifikasi. Dalam rekaman sebelumnya, arak-arakan di Masshad berteriak “matilah diktator,” merujuk kepada Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Sementara video media sosial dari Mashhad menunjukkan para demonstran menggulingkan mobil polisi huru-hara dan sepeda motor polisi dalam keadaan terbakar.

Di Teheran, kantor berita Fars melaporkan lebih dari 70 pelajar berkumpul di depan universitas utama dan melempari polisi dengan batu. Mereka juga berteriak “matilah diktator.”