Taliban Kini Hadapi Perang ISIS-K dan Milisi Panjshir

Hengkangnya Amerika Serikat atau AS dari Afghanistan setelah hampir 20 tahun telah menjadikan Taliban sebagai satu – satunya otoritas di Kabul.

Namun, penguasa baru itu kini menghadapi perang dari dua kubu, yaitu kelompok ISIS Khorasan atau ISIS – K dan milisi Lembah Panjshir.

ISIS – K mengaku bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri di gerbang Bandara Internasional Hamid Karzai, Kabul pada 27 Agustus yang menewaskan 13 tentara AS dan sedikitnya 170 warga Afghanistan.

Kekacauan yang terjadi setelah serangan bom bunuh diri itu merusak kredibilitas Taliban yang sudah berusaha keras sebagai penjamin keamanan dan stabilitas di sekitar bandara Kabul sementar AS dan sekutunya menyelesaikan evakuasi.

Ketika Taliban masuk ke Kabul hampir tanpa perlawanan ketika AS dan sekitinya, termasuk pemerintah terguling Afghanistan, dengan panik mencoba untuk mengevakuasi diri dari negara itu, Taliban meyakinkan AS bahwa mereka akan melindungi Kabul dan Bandara serta memberikan stabilitas yang sangat dibutuhkan ke kota yang terkepung.

Serangan ISIS secana langsung melemahkan pesan itu dan membuka pertanyaan apakah Taliban bisa menjalankan otoritas dan kontrolnya atas populasi resistif dengan ISIS – K dalam serangan dan gerakan perlawanan yang sedang berkembang di Lembah Panjshir.

Ketidakstabilan yang mungkin disebabkan oleh kebangkitan ISIS – K melemahkan argumen utama Tabilan dalam menandatangani perjanjian Doha 2020 dengan Amerika Serikat, di mana kelompok tersebut meyakinkan AS bahwa Afghanistan tidak akan lagi menjadi tempat yang aman bagi teroris untuk melancarkan serangan terhadap Amerika dan sekitinya.

Sebagai imbalannya. AS dan sekutunya menarik total pasukannya. Ketika penarikan pasukan AS dan sekutunya bergerak cepat, serangan ISIS – K di bandara itu strategis dan diperhitungkan.

“Serangan ISIS kemungkinan memiliki beberapa tujuan, termasuk mengganggu operasi AS di bandara dan mempermalukan Taliban ketika Taliban mencoba menjauhkan diri dari kelompok teroris dan menggambarkan dirinya mampu memberikan keamanan di seluruh negeri,” kata Charles Thorson, analis keamanan di RANE, kepada Fox News, Jumat 3 September 2021.

“Serangan itu juga mungkin memiliki tujuan jangka panjang untuk mendorong perekrutan dan menghidupkan kembali citra ISIS dalam komunitas jihad global di tengah kejatuhan kelompok itu di Irak dan Suriah,” lanjut Thorson.

ISIS – K diperkirakan memiliki antara 2.000 dan 3.000 milisi yang beroperasi di Afghanistan dan barisannya membengkak dengan lebih banyak milisi setelah tahanan dibebaskan saat pemerintah Afghanistan runtuh.

Keluhan utama ISIS – K terhadap Taliban adalah kesepakatan yang dinegosiasikan Taliban dengan Amerika Serikat di Doha.

ISIS – K menganggap Taliban sebagai pengkhianat karena mengadakan pembicaraan dengan Amerika Serikat dan mengumumkan niatnya untuk merusak kesepakatan dengan meluncurkan perang melawan Taliban dan pemerintah Afghanistan yang didukung AS.

Sementara Taliban secara bersamaan melancarkan kampanye pemberontakan melawan pasukan Afghanistan dan bernegosiasi dengan AS, ISIS – K melakukan serangan teror mematikan terhadap warga sipil Afghanistan, upaya untuk mendiskreditkan Taliban dan mendorong perekrutan.

Serangan dari ISIS – K juga menyoroti celan internal di dalam Taliban yang kemungkinan akan tumbuh lebih dalam saat Taliban memasuki fase pemerintahan yang mereka ambil alih.

Taliban, setidaknya secara retoris, sudah memberikan nada yang lebih moderat dan pragmatis dari kekuasaan mereka sebelumhya 20 tahun lalu.

Sementara kepemimpinan dan juru bicaranya tetap bernada lembut, jajaran dan anggota Taliban dipenuhi dengan faksi – faksi yang lebih ekstrimis yang akan lebih tertarik pada radikalisme yang dianut ISIS – K.

Menurut Thorson, struktur seperti itu rentan disusupi oleh organisasi yang lebih ekstrem seperti ISIS. Walaupun Taliban dan Isis adalah musuh, pembelotan dari satu kelompok ke kelompok lain menunjukkan mungkin ada kantong simpati dalam setiap kelompok untuk yang lain.

Bagaimanapun, ini merupakan bagaimana ISIS – K terbentuk pada tahun 2015, saat sisa – sisa yang tidak puas dari Taliban Pakistan dan kelompok jihandis lainnya berpisah dan berjanji setia kepada pemimpin ISIS Abu Bakr al – Baghdadi. Perpecahan itu menyebabkan deklarasi perang di kedua belah pihak.

“Permusuhan antara kedua kelompok muncul baik dari perbedaan ideologis dan persaingan untuk sumber daya. ISIS menuduh Taliban menarik legitimasinya dari basis etnis dan nasionalistik yang sempit, daripada keyakinan Islam universal, militannya membelot dari Taliban untuk bergabung dengan ISIS-K,” demikian analisis di Pusat Keamanan dan Kerjasama Internasional di Universitas Stanford.