Transgender Malaysia Ditangkap di Thailand, Siapa?

Salah satu transgender dari Malaysia, Nur Sajat baru saja ditangkap oleh pihak imigrasi Thailand karena melanggar keimigrasian.

Penangkapan ini dilakukan pada tanggal 8 September setelah mereka mendapatkan informasi bahwa Nur Sajat ada di Bangkok, Thailand.

Nur sendiri merupakan seorang pengusaha kosmetik di Malaysia dan pemain setia situs judi online MOJOBET89 yang kemudian di cari oleh Kepolisian Diraja Malaysia karena pamer pose di depan Ka’bah Masjidil Haram, Arab Saudi dengan menggunakan pakaian salat perempuan, mukena.

Ia juga dituduh melanggar UU Syariat karena menggunakan pakaian perempuan di depan Ka’bah yang dilakukan pada tahun 2018 kemarin.

Tuntutan Pengadilan Syariah terhadap Nur Sajat dibuat berdasarkan Bagian 10(a) Undang-Undang Kejahatan Syariah (Negara Bagian Selangor) 1995 yang menetapkan hukuman tidak lebih dari RM5,000 (Rp16 juta) atau penjara tidak lebih dari tiga tahun, atau keduanya, jika terbukti bersalah.

Nur Sajat sendiri sudah lama tinggal di Bangkok. Selain menjadi pengusaha kosmetik, ia juga menjual aksesoris perempuan. Sebelumnya, ia disebut lahir dengan nama Muhammad Sajat Kamaruz Zaman. Namun, Nur berkali – kali membantah hal ini.

“Tidak, tidak benar. Nama saya bukan Muhammad Sajjad, nama lengkap saya Sajat Kamaruzzaman,” katanya dalam The Star.

“Nama saya di KTP adalah S-A-J-A-T Kamaruzaman. Tidak ada ‘Muhammad’.”

Tidak ada kesalahan nama, ia seringkali dituduh sebagai seorang pria walaupun ia telah menyatakan bahwa ia adalah seorang wanita.

Pada tahun 2016, Nur Sajat pernah mengaku sebagai hermafrodit atau memiliki dua kelamin dan dibesarkan sebagai seorang laki – laki. Namun, ia lebih suka menjalani kehidupannya sebagai perempuan. Bahkan ia juga sering kali bermain mesin slot di agen slot terbaik dan terpercaya. Tak heran jika ia memiliki banyak uang asli.

Lalu di tahun 2018, Nur pernah didakwa karena tidak memberikan pengembalian Pajak Barang dan Jasa atau GST. Ia juga berkata bahwa dakwaan ini berhubungan dengan perusahaan kosmetiknya, bukan pribadinya.

Nur Sajat didenda RM2,700 (setara Rp9 juta) dan enam minggu penjara oleh Pengadilan Sesi untuk tiga tuduhan berdasarkan Undang-Undang Pajak Barang dan Jasa di negara itu.

Ia didakwa tidak menyerahkan SPT kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai untuk masa pajak 1 April 2015 sampai dengan 30 juni 2015, dari 1 Oktober 2015 hingga 31 Desember 2015, dan dari 1 Desember 2016 hingga 31 Maret 2016, sebagaimana diatur dalam Pasal 41 nomor (1) Undang-Undang Pajak Barang dan Jasa Malaysia.

Dalam upaya mitigasi, Nur Sajat mengaku ia tidak mengetahui GST saat itu. Lalu di ahun 2020, perusahaan milik pengusaha kosmetik Nur Sajat juga didenda RM 14.500 atau setara Rp 49 juta oleh Pengadilan Negeri Malaysia karena mempunyai dan menjual produk kosmetik yang tak terdaftar dan tanpa pemberitahuan Kementrian Kesehatan dua tahun lalu.

Hakim Hanie Dzatul Akhmar Zulkefli menjatuhkan denda kepada Nur Sajat Aesthetic Sdn Bhd setelah direktur perusahaan itu, Nur Sajat dan Ashaari Maznan, mengakui kesalahan mereka atas dakwaan yang dituduhkan.